Motivasi

Ayah & Bunda Jangan Potong Sayapku

Kejadian nyata ini sebenarnya terjadi pada saat saya duduk di bangku SMA, tepatnya dikelas XI. Saya masih ingat betul kejadian itu hingga terbawa sampai kini dan mengubah pola pikir saya tentang bagaimana mendidik anak. Waktu itu sebelum jama’ah sholat dhuhur, ruang BK disekolah saya tidak seperti biasanya. Suasana nya gaduh, terdengar beberapa kali teriakan orang marah. Sangat lantang sekali suara itu hingga terdengar sampai kelas saya yang terpaut dua blok dari ruangan itu. Tanpa pikir panjang saya pun mengajak beberapa teman “kriminal” saya untuk “menganguk” ke ruang BK.  Saya dan teman “kriminal” pun terkejut. Ternyata di ruang BK ada perdebatan sengit antara seorang kakak kelas dengan orangtuanya yang sedang di mediasi oleh guru BK. Hingga akhirnya pandangan mereka pun tertuju pada kami, meminta kami tidak menganguk dan segera menuju masjid. Tak lama kemudian si kakak kelas yang ada didalam ruang BK berlari keluar ke arah kami sambil menangis dan membanting pintu.

Kakak kelas itu berlari menuju tangga lt 4 untuk mengambil mukena sambil mengusap air matanya yang membuat wajahnya sembab kemudian langsung berlari menuju masjid. Setelah sholat dhuhur si kakak kelas dibantu beberapa orang temannya yang kebetulan juga teman saya mencoba menghibur si kakak kelas tadi “Awakmu kenopo cis,? Kok sampe koyo ngunu (kamu kenapa cis kok sampe nangis kyk gtu)” jawab si kakak kelas itu “film pendekku sing tak gawe karo arek arek lolos festival film pendek nang Perancis, 2 dino kepungkur wes di approve karo pihak panitia nang kono, tapi iki mau ayah bundaku gak setuju nek aku budal rono, ayah bundaku gak seneng aku dadi produser film rek, ayah bundaku pengen aku dadi dokter”. Mendengar perkataan si kakak kelas tadi sontak saya pun kaget bukan kepalang. Saya dan teman-teman yang mendengar pun merasa turut prihatin terhadap apa yang menimpa kakak kelas saya itu. Kami pun lantas juga memberikan semangat ke mbak kakak kelas itu “mbak sing sabar yo, sing semangat” hingga akhirnya si kakak kelas pun pergi meninggalkan kami dengan wajah sembab yang semakin layu.

Sebagaian besar ayah bunda mungkin tidak setuju dengan hal yang ada dalam kejadian itu yang kemudian menjadi landasan saya berdiskusi dengan Prof. Mukhlas Samani, guru besar Universitas Negeri Surabaya. Masih ingat saya kala itu ketika berdiskusi dengan beliau di kelas S2 kami, saya dan teman-teman S2 mengupas artikel Prof. Rhenald Khasali, guru besar Universitas Indonesia berjudul “Kalau mau anak hebat, orang tua harus berubah!”, artikel tersebut dijadikan acuan untuk mengetahui masalah orangtua dan anak didalam lingkup keluarga serta memberikan kesempatan kepada kami  untuk sama-sama memikirkan bagaimana pola pendidikan terbaik bisa diperoleh oleh anak sedini mungkin dan ini sekaligus tamparan keras bagi kita orangtua agar kita juga belajar menjadi surga terbaik bagi anak-anak kita.

Otak Orang Tua (Orang Tua “Mekso”)

Ayah bunda yang budiman, kenyataan yang tidak bisa dibantah adalah semakin kaya atau semakin mampu secara finansial dan berkuasa orang tua maka semakin “menguasai” anak-anaknya sehingga anak tidak mempunyai pilihan atas jalannya sendiri padahal itu juga baik. Jurusan kuliah dipilihkan orangtua, mata kuliah dipilihkan orangtua, dosen dipillihkan orangtua, jodoh dipilihkan orangtua, dan kerja pun masih dipilihkan orangtua sehingga di dunia kerja si anak terlihat “bodoh”. Seringkali kita menjumpai juga “anak mami’ katanya sih lulusan universitas terkemuka dengan IPK tinggi, namun sangat sulit membuat keputusan. Setelah tidak satu rumah dengan orangtuanya pun, teman-teman si anak tau bahwa seringkali “mami” nya telpon dan nangis-nangis karena merasa kehilangan. Nasihat “mami” banyak sekali dan si anak terlihat takut. Disuruh nego soal gaji, dia pun nego padahal kerja baru seminggu dan belum menunjukkan prestasi apa-apa. Begitu disuruh mami pulang, pulanglah dia tanpa ijin dari kantor. Sungguh potret yang sudah melampaui batas.

            Sama hal nya seperti si mbak kakak kelas saya diatas, ayah bunda nya seorang dokter, dan terang terangan ayah bundanya bilang ke dia kalau mereka tidak suka anaknya menggeluti dunia film. Padahal di club/ekstra film si kakak kelas saya ini adalah anak yang sangat berbakat, saya dan teman-teman bahkan guru-guru pun mengakuinya. Dan itu bukan isapan jempol belaka toh dia bersama timnya membuat karya film pendek yang akhirnya lolos festival film pendek di Perancis namun karena halangan prestasinya adalah orangtuanya sendiri akhirnya si kakak kelas saya ini hanya pasrah dan menangis, dia gagal berangkat ke Perancis bersama rekan rekannya. Singkat cerita dengar sebuah kabar viral bahwa si kakak kelas ini begitu lulus SMA langsung masuk fakultas kedokteran Universitas Airlangga, kemudian begitu dia lulus kuliah ijazah kedokteran miliknya diberikan ke orangtuanya sambil bilang “makasih yah, bund aku sudah nuruti ayah bunda untuk jadi dokter, sekarang aku pengen lanjut jadi produser film sesuai cita-cita ku”. Tentu kisah pilu si kakak kelas saya tadi tidak ingin terjadi di saya maupun keluarga ayah bunda sekalian.

            Hingga akhirnya jalan terbaik yang bisa kita lakukan sebagai orangtua adalah harus “legowo” ketika dihadapkan dengan cita-cita anak yang mungkin berbeda dengan kita. Tentu dengan catatan si anak sanggup (jowone sumbut) dengan kemampuannya serta orangtua juga sanggup mensupport dari segi moril maupun materil, si anak pun juga harus tau diri. Katakanlah si anak ingin jadi dokter namun orangtuanya bukan dari keluarga mampu maka yang harus dilakukan anak jika ingin melanjutkan cita-citanya mau tidak mau harus dengan jalur beasiswa, dukungan orangtua hanya sebatas moril saja. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah membekali anak dengan kemandirian, keberanian mengambil resiko, tanggung jawab serta “ngaji”. Mengapa “ngaji”, karena ngaji adalah benteng utama anak kita untuk menghindari dirinya dari hal-hal yang tidak baik. Tentu kita tidak mau anak-anak kita yang manis itu menjadi anak pintar namun tidak sholeh. Sebagai penutup mari kita sama-sama belajar menjadi orangtua yang baik, kenali potensi anak sedini mungkin agar tidak salah langkah, memahami anak bukan berarti memanjakan mereka, menyayangi anak bukan  berarti memberikan “jalan” yang melampaui batas sehingga mereka tidak punya pilihan seperti pepatah lama “katak dalam tempurung”, dan yang terpenting dan terakhir ayo sama-sama bangun komunikasi yang baik antara kita sebagai orangtua dengan anak-anak kita, sesibuk apapun waktu kita ayo luangkan waktu demi masa depan anak- anak kita karena sejatinya merekalah harta terbaik yang kita miliki.

Jumat Mubarrak

Afalaa Tatafakkaruun
Barriq F

Leave a Reply