Kabar Alumni

DAEBAKKKIIII!!! ALUMNI “LEGEND” SMP MUHAMMADIYAH 6 JADI PIONEER DI PONDOKNYA!!!!

Kamis lalu, 8 januari 2021 saya sengaja berangkat agak siang ke sekolah tempat saya mengajar karena masih harus bantu Ibu tercinta untuk mengajar secara daring di usia beliau yang mau menginjak 60 tahun. Sesampainya di sekolah, saya melihat ada seorang remaja laki-laki kisaran umur 17-18 tahun duduk di depan ruang guru, saya pun tampak asing dengan remaja itu karena dia mengenakan masker jadi wajahnya tak seberapa kelihatan. Namun tak lama, remaja itu berjalan menghampiri saya yang baru saja datang sembari memarkir motor kesayangan (suzuki smash a.k.a blue devil :D). Awalnya saya cuek saja, batin saya “mungkin anak SMA sebelah (SMA Muhammadiyah 4)”, tapi sewaktu saya melepas helm, remaja itu langsung menyapa.

“Assalamualaiykum Ustadz Barriq” sapa remaja itu.

“Wa’alaiykumussalam, ada yang bisa saya bantu mas? Lagi nunggu siapa?” tanya saya penasaran.

Dia pun sontak menurunkan maskernya, mungkin pikirnya saya ini lupa dengan dia.

“Apa kabar Ustadz?? Lama ndak ketemu. Saya baru pulang dari pondok minggu lalu Ustadz, nah berhubung hari ini ndak ada tugas daring jadi saya main kesini hehehe” ucap remaja itu dengan aksen Jawanya yang khas.

Saya pun langsung kaget ternyata dia adalah salah satu alumni legendaris SMP Muhammadiyah 6 Surabaya yang lulus tahun 2017.

“Allahu Akbarr, Ihsan toh..Yaa Allah mas, pangling sayaa, gimana-gimana yuk masuk yuk kita ngobrol-ngobrol dulu”

“Siap Ustadz”. Jawab Ihsan.

Setelah saya ajak masuk sebentar ke ruang guru, saya pun mengajaknya ke depan ruang tamu, karena saya pikir suasana di depan ruang tamu cukup sejuk dan tenang, cocok buat ngobrol ngalor-ngidul bersama tamu saya yang satu ini. Yaa Ihsan Taqiyuddin, panggilan akrabnya Ihsan. Saya sebut dia salah satu alumni legendaris SMP Muhammadiyah 6 Surabaya karena semasa dia sekolah disini banyak piala serta penghargaan yang dia persembahkan kepada almamater tercintanya ini.  

Saya teringat ketika dia masih baru  duduk di kelas 7, di akhir semester gasal dia beserta 2 kakak kelasnya berhasil menjuarai turnamen pencak silat Tapak Suci tingkat Kota Surabaya. Dan ajaibnya, baru kali itu dia mengikuti turnamen Tapak Suci Tingkat Kota Surabaya dan baru pertama kali seumur hidupnya dia berlatih keras di sekolah bersama teman-temannya di bawah asuhan Ustadz Purnomo, guru besar pencak silat Tapak Suci cabang Karangpilang Surabaya. Prestasi Ihsan di bidang seni beladiri pencak silat Tapak Suci tidak hanya berhenti disitu saja, beberapa bulan berselang dia berhasil menjuarai turnamen pencak silat Tapak Suci tingkat Jawa Timur. Jadi pada awal tahun dia belajar di SMP Muhammadiyah 6 Surabaya sudah 2 trophy dan penghargaan yang dia persembahkan. Betul-betul The Young Guns!!!! .

Ketika dia duduk di bangku kelas 8, prestasi Ihsan pun berkembang. Kali ini bukan turnamen individu, melainkan tim dan dia terlibat di dalamnya. Dia bersama teman-temannya di bawah asuhan Ustadz Ganjar Indrawan, berhasil menjuarai turnamen futsal tingkat kota Surabaya. Lelah Ihsan dan teman-temannya di tim futsal pun terbayar berkat latihan yang disiplin. Nah, sudah 3 Trophy yang dipersembahkan Ihsan untuk SMP Muhammadiyah 6 ini. Sugoii !!!

Prestasi Ihsan tidak berhenti disitu, ketika dia menginjak kelas 9, dia pun “berulah” lagi, prestasi dibidang religi berhasil dia raih. Di bawah asuhan Ustadz dan Ustadzah SMP Muhammadiyah 6 Surabaya, Ihsan berhasil menuntaskan hafalan Juz 29 dan 30 serta menguasai maqamat tartil Bayyati Kurdi. Ihsan akhirnya mendapatkan dua Syahadah sekaligus dari sekolah yaitu Syahadah Tahfidz Juz 29 dan 30. Prestasi ini yang membawanya diterima di Ekselensia Tahfidz School Bogor dan mendapat beasiswa penuh selama 3 tahun disana gratiss tisss bosku. Daebak..Daebakk!!

Ketika cerita mulai seru saya pun sedikit usil menanyakan hal berikut kepada Ihsan.

“Ihsan, kalau boleh tau apa yang kamu dapat selama belajar di sini?” .

 “Waduhh…Banyakkkkk hal Ustadz, mulai dari Ustadz & Ustadzah yang ramah dan enjoy, teruss…Ustadz & Ustadzah yang berjasa bagi hidup saya, yang mengajar, membimbing dan melatih saya hingga saya bisa meraih prestasi-prestasi itu. Oh ya Ustadz, yang paling berkesan pas belajar ngajii, terutama Bayati kurdinya tuh, Alhamdulillah saat ini di pondok, saya diamanahin Ustadz saya untuk jadi mentor teman-teman belajar Bayati Kurdi bareng-bareng. Jadi, Ilmu dari Ustadz dan Ustadzah di SMP Muhammadiyah 6 sampai sekarang masih saya pake di pondok hihiiiiiii”  Jawab Ihsan sambil senyam senyum.

Tak terasa obrolan ngalor ngidul dengan Ihsan pun berakhir karena rapat koordinasi yang dikomandani oleh Ustadzah Yuyun dan Ustadzah Lidia telah dimulai. Langsung gercep saya ambil hape, lalu njawil Ihsan sambil berbisik “. San foto dulu yaa, okeee”.

Jawab Ihsan “Asiyapp Ustadz” . And then cekrekkk, ini hasilnya.

Gambar 1. The Legend, Ihsan Taqiyuddin 

Sebelum saya beranjak rapat dan menutup obrolan ngalor ngidul, Ihsan pun sempat bilang kepada saya.

“Ustadz sampaikan salam saya ke Ustadz & Ustadzah yang lain boleh yaa, saya sekarang sudah kelas 12 di pondok. Saya mohon doanya juga karena selepas lulus nanti saya ingin sekali kuliah di Kairo”  Ujar dia dengan semangat.

“Amiin Yaa Rabbal Alamiin, semoga Allah selalu memudahkan langkahmu ya nak, Allah Yuftah Alaiykum” Jawab saya sembari menepuk pundak Ihsan dengan bangga.  

Siapa the next legend berikutnya??? Ikuti terus ceritanya di web smpmusix.info yaa

Leave a Reply