Umum

DIUNDANG SEBAGAI NARASUMBER, SMP MUHAMMADIYAH 6 SAMPAIKAN PENTINGNYA INOVASI DIKALANGAN PENGAJAR DAN KREATIFITAS ANAK DIDIK DI MASA PANDEMI

Inovasi dalam dunia pendidikan sangat penting demi terwujudnya kualitas pendidikan yang lebih baik. Selain itu inovasi dalam dunia pendidikan diharapkan mampu menjawab tantangan serta memberikan solusi dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tidak terkecuali pada saat pandemi covid 19 ini, dimana inovasi dikalangan pengajar sangat dibutuhkan karena hal tersebut bisa membantu peserta didik agar lebih mudah untuk menerima materi pembelajaran yang disampaikan oleh guru melalui daring. Selain itu, inovasi dikalangan pengajar sebisa mungkin dapat memberikan dampak kepada peserta didik agar mereka bisa lebih terpacu untuk mengasah kreatifitasnya supaya tidak lekas jenuh dengan kegiatan pembelajaran yang mereka jalani di rumah saat pandemi serta mampu menghasilkan karya-karya sesuai passion mereka dengan lebih produktif

Gambar 1. Bapak Yosep selaku Host (paling kiri), Ustadz Luqman dan Ustadz Barriq (tengah), Hafiy dan Ibu Ike (paling kanan) sebagai narasumber di Radio Mercury 96.0 FM Surabaya.

Hal itulah yang menjadi acuan oleh tim dari SMP Muhammadiyah 6 ketika diminta menjadi narasumber oleh Radio Mercury 96.0 FM Surabaya dalam program “Rumah Komunitas” pada kamis lalu, 14 Januari 2021. Dimotori oleh Ibu Ike Dianingtyas S.E., pegiat pendidikan anak sekaligus ibunda dari ananda Hafiy Irsyad kelas 7A, kemudian didukung oleh sekolah melalui Kepala Sekolah yang diwakili oleh Ustadz Luqman Hakim S.T. dan Ustadz Barriq Faiz A.I. M.Pd. Talk show berdurasi satu jam tersebut mengulas beberapa problematika pendidikan pada masa pandemi covid 19 diantaranya adalah  1) banyaknya waktu luang yang dimiliki peserta didik di rumah namun tidak termanfaatkan dengan baik; 2) kurangnya inovasi dikalangan pengajar akibat masa transisi dari pembelajaran luring ke pembelajaran daring; dan 3) kurangnya kreatifitas peserta didik untuk menghasilkan produk–produk baru yang bermanfaat sesuai dengan passionnya selama pandemi covid 19.

“Waktu anak di rumah lebih banyak, harus kita arahkan sesuai passion mereka, agar waktu yang ada itu menjadi lebih bermanfaat sekaligus mengusir rasa bosan” Ungkap Ibu Ike kepada Pak Yosep dan Pak Aldi selaku Host.

“Lalu bagaimana dengan kurikulum yang ada selama pandemi ini? apakah tetap seperti kurikulum pada umumnya (sebelum pandemi) atau ada penyesuaian-penyesuaian khusus?” Tanya Host kepada Ustadz Luqman.

“Tentunya ada penyesuaian-penyesuaian khusus sesuai dengan kebutuhan sekolah masing-masing selama pandemi ini. Termasuk pemanfaatan waktu luang anak ketika di rumah untuk kegiatan yang produktif”Jawab Ustadz Luqman.

“Ya benar, kebutuhan tiap sekolah memang berbeda, yang bisa diketahui melaui asesmen atau pengumpulan informasi terkait kendala yang ada di tiap-tiap peserta didik ketika belajar di rumah, masukan orangtua, dan apa bakat minat anak. Lalu dari hasil asesmen tersebut kita bisa temukan cara lalu solusinya” imbuh Ustadz Barriq.

Gambar2. Bapak Yosep selaku Host (baju putih, bawah), Ustadz Luqman  (baju putih, atas), Ustadz Barriq (baju hitam, atas), Hafiy dan Ibu Ike (baju pink, atas) ketika Talk Show berlangsung.

Narasumber tersebut juga menjelaskan berbagai macam solusi berdasarkan tiga problematika pendidikan yang telah dijelaskan sebelumnya yaitu 1) orangtua harus lebih bijak dalam mengontrol kegiatan anak di rumah, terlebih lagi ketika anak selesai mengerjakan tugas daring dari sekolah sehingga waktu luang yang mereka miliki lebih banyak. Orangtua bisa memberikan tugas harian kepada anak untuk melatih softskill mereka seperti membantu orangtua memasak, membersihkan rumah, menulis dan lain sebagainya. Bila perlu orangtua bisa berkoordinasi dengan guru melalui walikelas agar sekolah bisa memberikan challenge atau proyek khusus yang tidak memberatkan namun tetap sesuai dengan passion anak; 2) pengajar tetap bisa melakukan inovasi walaupun kondisi yang sulit seperti ini, karena apapun itu inovasi tetap dibutuhkan agar pembelajaran bisa menjadi lebih menarik; 3) orangtua dan guru sebisa mungkin mendongkrak kreativitas peserta didik melalui pendekatan pemecahan masalah dengan cara memberikan proyek-proyek yang tidak memiliki resiko tinggi dalam pengerjaannya serta dilakukan terbimbing oleh guru melalui daring dan dipantau langsung oleh orangtua sebagai contoh proyek untuk membuat aplikasi pemecahan masalah matematis dengan menggunakan bahasa pemrograman python seperti yang dilakukan oleh ananda Hafiy. (B)

Leave a Reply