Motivasi

LANGKAH-LANGKAH MELAKUKAN HYPNOPARENTING AGAR ANAK RAJIN BELAJAR

1. Kenali penyebabnya

Banyak anak-anak SD hingga SMU saat ini yang mulai tidak dapat mengikuti pelajaran di sekolah sehingga dengan mudah kita beranggapan bahwa anak itu malas belajar. Itu sebabnya biasanya kita bereaksi dengan menegurnya dan pada akhirnya meminta bantuan guru les. Sesungguhnya ada banyak alasan mengapa anak mengalami kesukaran belajar walaupun anak telah berusaha dan dengan tekun belajar, tetapi hasilnya tetap tidak memadai dan itu berarti tuntutan sekolah melampaui kesanggupannya. Bila kita memaksakannya, anak akan tertekan dan perkembangan dirinya akan terganggu. Hanya satu alas an kenapa anak bersikap demikian, yaitu kemalasan.

Dengan alasan anak tidak dapat mengikuti pelajaran karena pelajaran disampaikan dengan cara yang tidak sesuai dengan cara belajarnya. Anak mengalami kesulitan belajar karena alasan pribadi yang berkaitan dengan pengajar. Misalnya, ada anak yang tidak menyukai pelajaran tertentu karena ia tidak menyukai kepribadian pengajarnya. Dapat pula ia tidak menyukai pengajat karena pernah diejek atau dipermalukan. Bahkan, mereka mengalami kejenuhan dalam belajar akibat perlakuan teman yang tidak bersahabat.

Akhirnya, ia tidak suka ke sekolah bahkan konsentrasi belajarnya menurun karena ia seringkali merasa takut untuk sekolah dan bertemu dengan guru atau teman di kelasnya. Anak mengalami kejenuhan juga karena akibat masalah rumah tangga. Masalah orang tua pada akhirnya menjadi masalah anak juga dan sangat berpengaruh dengan kondisi anak. Anak mengalami kesukaran belajar sebab baginya bermain jauh lebih menyenangkan daripada belajar dengan teknologi membuat anak asyik bermain dan lupa waktu dan tanggungjawab. Selain itu, anak menjadi malas belajar adalah karena “label” yang diberikan orang di sekelilingnya sehingga menimbulkan keyakinan bahwa dirinya malas belajar, yang akhirnya berdampak pada perilaku malas belajar (Lucy, B., 2012).

2.Persiapan

Sebelum melakukan penanganan lebih lanjut, tanyakan terlebih dahulu kepada diri orang tua anak hal-hal seperti:

  • Apakah gaya belajar anak terakomodir dikelasnya?
  • Apa yang paling menarik anak Anda lakukan selain belajar dan memotivasinya?
  • Apakah orang tua sang anak sering mengatakan kata-kata “malas” kepada anaknya?
  • Apa yang membuat anak menjadi malas dan tidak termotivasi dalam belajar?
  1. Memakai kalimat yang positif dan menghindari kalimat negative

Segala  sesuatu yang dilarang, penuh tekanan intonasi dan ada emosi di dalamnya, itulah yang akan diingat terus oleh anak ketika ia mendengarnya. Apabila dalam kesehariannya ia sering mendengar kata “jangan” atau “tidak boleh” atau “nakal kamu, ya!” atau “anak yang malas” dan kata-kata negatif lainnya, hampir dipastikan, kata-kata itulah yang selalu didengar dan ditanamkan dalam hati.

Ucapan ibu akan menjadi doa buat anaknya. Jadi jika si ibu mengucap kata-kata negatif terhadap anaknya, maka bisa saja anak itu menjadi anak yang berperilaku negatif pula.

Orang tua yang baik hendaknya memikirkan hal-hal yang positif saja terhadap anaknya, juga berbicara dengan lembut (intonasi tidak meninggi). Kata-kata positif yang diucapkan dengan intonasi yang positif akan ditangkap pikiran bawah sadar anak sebagai kesan positif. Karena perkataan orang tua sangat menentukan proses kemandirian anak, maka hendaknya orang tua mampu mengucapkan kata-kata positif saja di depan anak.

  1. Menciptakan perasaan positif dan pikiran yang positif

Ketika anak mulai memasuki sekolah,baik itu kelompok bermain atau taman kanak-kanak, orang tua pasti akan mulai khawatir. Hal seperti ini dapat membawa dampak psikologis bagi anak.

Misalnya saja jika orang tua merasa takut kalau anaknya di sekolah akan jatuh, bermain dengan temannya lalu bertengkar, atau anak belajar tidak sesuai dengan perintah guru, maka secara psikologis akan mempengaruhi kepercayaan orang tua terhadap guru di sekolah anak. Orang tua seakan-akan tidak percaya bahwa bapak-ibu gurunya tidak mampu mendidik anak seperti didikan mereka.

Mungkin orang tua berpikir bahwa bapak-ibu guru kurang perhatian terhadap anak karena banyaknya siswa yang harus diperhatikan. Pemikiran seperti ini akan menimbulkan kecemasan yang tidak beralasan dan hanya akan menambah beban masalah.

Sebagai orang tua yang baik, hendaknya selalu mempunyai perasaan yang positif terhadap guru serta memberikan kepercayaan penuh terhadap guru bahwa guru juga berpengalaman dalam mendidik anak serta pasti akan memperhatikan anaknya.

Dengan perasaan yang positif, kepercayaan penuh serta pikiran positif orang tua terhadap guru, maka orang tua dan guru akan merasa tenang dan anak akan merasa senang di sekolah (Setyono, A., 2007).

  1. Menciptakan suasana rumah yang positif

Suasana rumah juga sangat menentukan kemandirian anak. Jika rumah itu harmonis, maka anak akan dapat berperilaku positif. Misalnya saja dalam kamar anak diberi ungkapan-ungkapan positif seperti “Aku mau jadi anak pandai” atau “Aku suka belajar”, atau kata-kata lain yang apabila setiap dilihat dan dibaca terus menerus maka akan tersimpan dalam memori anak dan akan masuk ke dalam pikiran bawah sadar anak.

Hal ini akan menumbuhkan sifat dan sikap yang diinginkan oleh orang tua dan anaknya, karena secara otomatis kata-kata itu akan terpatri dalam sanubari dan membentuk jiwa anak.

  1. Menumbuhkan sifat persaingan pada anak

Sejak dini anak sudah harus ditumbuhkan sifat kompetitif. Ini penting karena sifat kompetitif akan mengarah pada kedisiplinan, konsep mejadi yang terbaik, konsep unggul, pengembangan diri yang optimal, dan berprestasi. Secara intuitif, anak selalu berusaha mencari perhatian dari orang tuanya. Dengan adanya persaingan, anak akan terdorong untuk berbuat lebih baik, memenuhi ekspektasi orang tua, dan pada akhirnya mengembangkan kualitas dirinya. Di dalam persaingan konsep reward-and-punishment sangatlah penting. Dalam setiap hal diberikan reward (hadiah) yang sepadan jika anak berhasil melakukan sesuatu. Sementara itu, berikan dia punishment (hukuman) jika dia melanggar sesuatu. Tidak perlu berpikir untuk memukul anak.

ada dua orang anak. Saat waktunya belajar, sang ibu dan ayah bertanya, “ Ayo… siapa yang mau belajar ?”. Kedua anaknya berebut menjawab, “Aku ! Aku !”. si adik langsung berlari ke kamar dan menyiapkan buku pelajaran. Kakaknya tertawa tenang. “ Ah, dia kan belajarnya cuma sebentar. Aku tidak lihat adik dapat peringkat di kelas”. Melihat itu, ibu dan ayah hanya tersenyum, lalu berkata, “Ayo… adik dan kakak belajar yang rajin dan serius supaya dapat peringkat di kelas, nanti ibu beri hadiah”. Komentar itu memberikan perasaan menang atas persaingan pada sang kakak. Sementara si adik akan berusaha melakukan hal yang diminta oleh ibu karena dia juga menginginkan hadiah dan persetujuan dari ibu dan ayahnya. Pada akhirnya, kakak mendapat hadiah dan adik pun mendapat hadiah. Dalam benak mereka, itu hanyalah permainan, sementara sesungguhnya ibu dan ayah telah mendidik kedua anaknya untuk bersaing dan mengembangkan diri. Punishment-nya hanyalah hadiah kakak diberikan lebih dahulu untuk menunjukkan siapa yang menang.

Satu hal penting lain yang terlihat dari contoh diatas adalah tidak boleh membandingkan. Tidak boleh mengatakan, “Adik bagaimana sih, kok seperti itu. Tidak dapat peringkat di kelas. Ayo belajar yang rajin supaya dapat peringkat seperti kakak”. Komentar demikian adalah membanding-bandingkan. Persaingan tidaklah sama dengan membandingkan. Sikap membandingkan hanya akan menciptakan perasaan dendam dan ketersinggungan pada anak. Persaingan adalah melakukan sesuatu yang sesuai dengan standar yang telah ditetapkan orang tualah yang harus menjadi standar. Standar adik bukanlah kakak. Demikian pula, standar kakak bukanlah adik. Akan tetapi, standar anak adalah orang tua. Ini merupakan kesalahan klasik yang sering terjadi dan dilakukan dengan tidak sadar. Ingin hati adalah untuk memotivasi anak agar menjadi lebih baik, berprestasi, dan menjadi kepribadian yang lebih baik. Membandingkan antara dua anak, kakak dan adik dapat menimbulkan permusuhan dan dendam. Intuisi dasar anak adalah mencari perhatian orang tuanya. Akan tetapi, setelah ia menyadari bahwa saudaranya mendapatkan perhatian lebih dari dirinya, dalam hati anak bisa muncul perasaan  minder, kesal dan bahkan dengki (Silawati, dan Yanti A., 2015).

  1. Menghindari sikap ambivalensi

Idealnya orang tua adalah dua orang, ayah dan ibu. Ambivalensi atau ambiguitas adalah sifat mendua antara orang tua. Ibu bilang A, sementara ayah bilang B. itu akan membuat anak bingung, kehilangan orientasi, dan mengeksploitasi celah. Pada dasarnya setiap anak manipulatif. Dia akan mampu membaca celah kelemahan dari orang-orang sekitarnya untuk bisa mendapatkan keinginannya. Dia akan selalu menguji hingga batas terakhir, semua cara yang mungkin untuk bisa meraih apa yang dia mau. Contohnya, anak malas belajar karena sedang main game, ibu melarang main game karena game dapat membuat anak malas belajar. Sementara ayah beranggapan, tidak apa sekali-sekali. Besok atau lusa, anak akan selalu memanfaatkan perbedaan tersebut untuk hal yang lain juga, seperti menghabiskan waktu dengan bermain, bolos sekolah, malas berangkat sekolah dan sebagainya.

Terkadang anak tidak benar-benar ingin melakukan apa yang dia minta, tetapi dia hanya ingin menguji seberapa besar kesempatannya untuk bisa mendapatkan keinginannya. Permasalahannya, jika anak berhasil mendapatkannya, dia akan memiliki toleransi uji yang sangat tinggi sehingga tidak aneh jika melihat ada anak yang menjerit-jerit atau tantrum dipusat perbelanjaan karena ingin meminta sesuatu. Dia pernah merasakan menang dari orang tuanya dan dia ingin selalu menang. Apapun yang terjadi, selalu tampil solid didepan anak. Jika ayah dan ibu berbeda pendapat dan bertengkar, lakukan itu diluar jangkauan anak. Tekankan konsep satu pendapat dalam rumah dan cara mendidik anak (Silawati, dan Yanti A., 2015).

  1. Menekankan hubungan kausalitas

Hukum sebab akibat atau kausalitas merupakan hal mendasar yang harus diajarkan pada anak. Ini merupakan konsep konsekuensi tindakan. Anak harus memahami bahwa setiap tindakan yang dia lakukan akan memiliki akibat, baik atau buruk. Konsep ini akan membantu anak untuk berinteraksi dengan dunia di luar rumahnya, yang wajib disiapkan orang tua sejak dini. Untuk menerapkannya, orang tua harus memiliki peraturan didalam rumah. Semua orang didalam rumah harus patuh pada peraturan tersebut. Akan ada saatnya anak akan menguji penerapan peraturan tersebut. Disinilah sikap asertif orang tua dibutuhkan. Orang tua harus tegas, tidak memiliki double-standar, dan tidak membeda-bedakan. Saat anak melakukan kesalahan atau pelanggaran, berikan dia hukuman yang sesuai. Misalnya, anak bermain game terlalu lama sehingga tidur larut malam dan besoknya terlambat bangun dan pergi sekolah. Terapkan hukuman yang sudah disepakati, seperti tidak boleh bermain game lagi selama beberapa minggu.

Selain itu, peraturan tidak hanya berhubungan dengan hukuman, tetapi juga reward. Anak yang berhasil mencapai sesuatu harus diberi penghargaan yang setimpal. Contohnya, saat standar nilai rapor tujuh, dan anak mendapat nilai delapan, reward merupakan suatu hal yang wajib diberikan. Setelah reward diberikan, katakan kepada anak, “ Nah, kamu ternyata bisa kan dapat nilai delapan kalau belajar dengan giat. Rapor besok ibu mau ada lebih banyak nilai delapannya, dan delapan yang sekarang jangan sampai turun”. Jangan katakan, “Nah, awas ya kalau nilai delapannya turun jadi tujuh lagi, apalagi enam. Pokoknya ibu mau rapor kamu banyak delapannya”. Kalimat bernada mengancam seperti ini akan membuat hati anak mengecil dan kontra produktif. Pertama anak senang karena dia telah berhasil melakukan sesuatu yang diluar harapan, dan itu pencapaian yang luar biasa. “Akan tetapi mengapa ini kemudian menjadi beban pada anak. Lebih baik saya tidak usah dapat delapan, tujuh saja sudah bagus. Kalau begini hanya menyulitkan saya saja, pikir si anak”.  Dengan demikian anak akan enggan untuk maju lagi dan hanya melakukan sesuai standar saja sehingga tidak akan pernah berkembang (Silawati, dan Yanti A., 2015).

  1. Menghindari melakukan intervensi terlalu banyak

Semua orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik buat buah hatinya. Akan tetapi, terkadang yang terbaik bukanlah yang paling indah. Demikian juga dengan mendidik anak. Orang tua sering kali membesarkan anak dengan kekhawatiran tinggi. Kalau dia begini, bagaimana dan kalau nanti ada itu, apa yang terjadi. Kekhawatiran- kekhawatiran tersebut akan membuat orang tua membatasi ruang gerak anak, ruang gerak yang seharusnya dia eksplorasi. Kecenderungan orang tua untuk selalu melindungi anaknya, menjadi bumper, menyiapkan solusi, selalu menyediakan kenyamanan, sehingga anak tidak lagi memiliki pertahanan diri.  Selain itu, orang tua yang memiliki kekhawatiran berlebih akan cenderung menjadi over- protective, yang pada akhirnya akan menyebabkan anak menjadi lemah, terlalu bergantung, kurang mandiri, dan memiliki sifat cepat menyerah. “Ayah, Adik disuruh bu guru melukis pemandangan, adik tidak bisa nih”. Lantas ayahnya menjawab, “ Oh, tugas kesenian ya, disuruh membuat lukisan, sudah nanti ayah lukiskan yang bagus. Adik pasti mendapat nilai A”. tidak saja itu mengajarkan anak berbohong, ayah baru saja mematikan kreatifitas dan daya juang anak. Jika hal ini terus terjadi, psikomotorik anak tidak akan berkembang sehingga dia tidak mampu mengembangkan rasa tanggung jawab sosial, empati, cenderung egosentris.  Biarkan anak menghadapi masalahnya, awasi dari jauh dan selalu siap memberikan saran-saran jika dia memintanya atau membutuhkannya. Akan tetapi jangan pernah ambil alih masalahnya. Jika dia berhasil mengatasinya, itu merupakan sebuah pencapaian dan layak mendapatkan reward (Silawati, dan Yanti A., 2015).

  1. Lakukan kontak tubuh

Lakukan kontak tubuh secara lembut, berulang dan monoton (dapat dilakukan saat ia tertidur), seperti mengusap kepala atau dahi balita, mengusap punggungnya dengan lembut. Pada kondisi memungkinkan, kontak tubuh yang disertai sugesti bisa dilakukan seperti mengajak anak tos, jabat tangan atau genggam tangan.

  1. Kalimat Sugesti – Afirmasi Positif

Mulailah bicara dengan niat menanamkan sugesti positif, gunakan kalimat afirmasi positif seperti, “Anak manis, mimpilah yang indah dan besok pagi, bangun segar, bersemangat untuk berangkat sekolah dan sehat.”

Selalu gunakan kalimat-kalimat positif saat melakukan hipnosis. Seperti pada contoh orangtua, “rajin belajar yaa” yang merupakan kalimat positif. Jangan ucapkan, “rajin belajar ya…Kalau tidak nanti kamu bisa bodoh” Ini menandakan kecemasan orangtua yang bias ditangkap anak sehingga malah bersugesti negatif. Sebab ada kemungkinan daya kritis anak sedang turun, sehingga kata-kata negatif itulah yang terserap.

Kata-kata tidak atau jangan sebaiknya juga dihindari, karena ada kemungkinan anak tidak bisa merangkum keseluruhan kata dalam proses hipnosis dirinya. Misalnya, kata “tidak malas” atau ”jangan malas”. Jika tingkat kedalaman hipnosisnya sudah dalam, otaknya tidak mampu lagi merangkum kedua kata jadi satu. Yang tertangkap adalah kata ‘tidak’ dan ‘cemas’ yang justru berarti negative.

Gunakan kata yang membangun atau konstruktif saat memberikan sugesti. Misalnya:

  1. “Sayang, mulai saat ini ketika Mama pegang bahu kananmu, maka kamu akan bergembira dan bersemangat.”
  2. “Saat kamu melihat logo sekolahmu, kamu akan naik kelas.”
  3. “Saat kamu melihat video game-mu, kamu akan merasa sangat bosan.”
  4. “Mulai saat ini, ketika kamu melihat lambang warna putih di meja belajarmu, maka kamu ingin sekali membuka buku pelajaran dan belajar.”

Untuk amannya, maka sebaiknya selalu gunakan kata atau kalimat positif karena orangtua tak selalu tahu apakah si anak dalam kondisi hipnosis yang masih dangkal atau sudah dalam. Jadi lebih baik gunakan kalimat ‘semakin rajin dan semangat’, daripada kalimat ‘tidak malas lagi’.

Lalu hindari pula kata ‘akan’ karena menyiratkan suatu proses atau sesuatu yang belum terjadi. Kalimat “kalau kamu bangun pagi kamu tidak akan terlambat”. Sebaiknya diganti dengan “setiap kamu bangun tidur, kamu bersemangat”.

  1. Pengulangan

Lakukan pengulangan secara konsisten, orang tua melakukan hal sama berulang-ulang, hingga terlihat hasil yang diharapkan. Ulangi semua proses itu berkali-kali secara konsisten. Sebaiknya beri  waktu dari satu sugesti ke sugesti untuk kasus berlainan. Misalnya dua bulan ini orangtua menghipnosis anak agar jangan mengompol, baru setelah dua bulan itu orangtua menghipnosis agar anak tidak malas belajar.

Akhirnya, anak adalah amanah dari Tuhan, diperlukan keiklhasan dan  tanggung jawab orang tua di dalam mendidik anak. Jika orangtua mampu mendidik anaknya dengan baik, maka anak pun akan tumbuh menjadi anak yang baik pula. Untuk menghasilkan anak yang mempunyai sikap dan kepribadian yang baik, orang tua hendaknya selalu memikirkan setiap tindakan, ucapan, dan pikiran mereka. Karena bagaimanapun juga, anak akan bertindak dan bereaksi atas dasar reaksi orang tua padanya.

Model yang didapatkan dari rumah akan memunculkan pula pola komunikasi yang digunakan anak dalam bersosialisasi. Selain pola komunikasi yang terbuka dan hangat juga didukung adanya penerapan nilai-nilai pendidikan pada kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi pola sikap dan tindakan yang tertanam kuat. Nilai-nilai kedamaian, penghargaan, cinta kasih, tanggung jawab, kebahagiaan, kerjasama, kejujuran, kerendahan hati, toleransi, kesederhanaan dan persatuan merupakan nilai-nilai pokok yang harus ditanamkan sejak awal. Tertanamnya nilai-nilai ini, secara berproses, akan membentuk konsep diri yang kuat pada anak, yang pada intinya mampu “membawa diri”nya dengan baik.

Kemampuan anak mengamati, meniru, dan merasakan apa yang orang tua pikirkan merupakan suatu sifat yang menakjubkan. Dengan hypnoparenting yang sederhana, orang tua mampu membentuk sifat mandiri anak.

Sumber Pustaka penulisan : Khoirun Nisak, Mutia C.P.S., Azeis Rianang, Dwi Safitri, Endah Kencana, Nanfia Bella K*)

Leave a Reply